Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan, apresiasi atas komitmen para investor yang tetap menanamkan modal di Jawa Tengah di tengah tantangan geopolitik global dan keterbatasan fiskal. Menurutnya, komunikasi yang intensif antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci agar Jawa Tengah tetap menjadi tujuan investasi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para investor yang tetap memberikan kepercayaan kepada Jawa Tengah. Daerah ini harus menjadi provinsi yang ramah investasi, khususnya bagi industri padat karya tanpa menutup peluang bagi industri padat modal,” kata Luthfi saat Business Dinner “Gubernur Jawa Tengah dengan Stakeholders Perekonomian se-Jawa Tengah” di Hotel Padma Semarang, Selasa (30/6/2026).
Luthfi menegaskan, pentingnya peran Bank Jateng sebagai bank milik pemerintah daerah dalam mendukung ekosistem investasi. Menurutnya, apabila aktivitas investasi memanfaatkan layanan Bank Jateng, maka perputaran dana akan lebih banyak terjadi di dalam daerah sehingga mampu menciptakan sirkulasi keuangan baru yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko mengatakan, forum tersebut sengaja dirancang untuk memperkenalkan kapasitas Bank Jateng kepada perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Tengah, termasuk investor asing. Bank Jateng lanjutnya, siap menjadi mitra strategis dalam berbagai kebutuhan transaksi keuangan.
“Banyak yang belum mengetahui bahwa Bank Jateng merupakan bank devisa yang mampu melayani transaksi dalam berbagai mata uang asing seperti Dolar Amerika Serikat, Yen Jepang, Ringgit Malaysia, Yuan China, hingga Won Korea,” tuturnya.
Bambang mengatakan, pihaknya siap melakukan customize service sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan. Karena setiap perusahaan memiliki karakteristik layanan yang berbeda maka lanjutnya, Bank Jateng siap memberikan solusi yang paling sesuai.
Ia menambahkan, selama ini sebagian besar transaksi keuangan perusahaan besar di Jawa Tengah masih dikelola oleh perbankan di luar Bank Pembangunan Daerah. Padahal, menurutnya, apabila transaksi tersebut dapat dikelola Bank Jateng, maka sirkulasi dana akan bertahan lebih lama di Jawa Tengah dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Bank Jateng juga terus memperkuat fondasi bisnisnya, melalui pertumbuhan kinerja yang konsisten. Menurut Bambang, hingga akhir 2025, total aset Bank Jateng mencapai Rp 100,06 triliun, meningkat signifikan sebesar Rp 30,70 triliun dibandingkan pada 2013. Sementara laba usaha tercatat mencapai Rp 1,42 triliun.
Dari sisi layanan, Bank Jateng kini didukung oleh 44 kantor cabang, 150 kantor cabang pembantu, 416 kantor fungsional dan payment point, serta 834 ATM. Transformasi digital juga terus dilakukan melalui layanan mobile banking, internet banking, EDC, hingga Cash Management System (CMS) untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat maupun dunia usaha.
Di sektor pembiayaan, Bank Jateng menjadi salah satu penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia. Sejak mulai menyalurkan KUR pada 2013 hingga Mei 2026, total kredit yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp29,7 triliun.
Bambang menegaskan, Bank Jateng akan terus meningkatkan kualitas layanan untuk mendukung visi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan daya saing investasi.