LENTERAJATENG, Semarang – Uap panas seketika mengepul ketika tutup panci kukus dibuka. Di dalamnya, barisan kue berwarna merah muda berjajar memikat mata.
Kue Moho namanya. Permukaannya merekah lebar seperti bunga teratai yang sedang mekar menjadi pemandangan kontras di tengah riuhnya Pasar Imlek Semawis 2026 di kawasan Pecinan, Kota Semarang.
Mekarnya kue ini ternyata adalah simbol doa. Bagi masyarakat Tionghoa, semakin lebar kelopak kuenya, maka semakin lebar pula rezeki yang akan terbuka di tahun yang baru.
“Ini namanya Kue Moho, untuk sembahyang. Kalau yang mekar begini artinya rezekinya biar mekar, biar banyak,” ujar Fransiska Sri Lestari kepada Lentera Jateng.
Fransiska telah puluhan tahun menjaga tradisi kuliner ini. Sembari mendorong gerobaknya, ia berdagang di kawasan Semawis menjajakan kue-kue yang digunakan untuk sembahyang.
Saat disentuh, tekstur Kue Moho terasa padat namun tetap lembut. Aroma khas gandum juga terasa ketika digigit. Rasanya manis yang tidak berlebihan menyapa lidah dengan lembut.
Tak ketinggalan, ia juga menawarkan bakpao yang permukaannya bertuliskan aksara Tiongkok. Bermakna panjang umur, bakpao ini tak kalah memikat dengan warna merah muda yang merona.

“Harganya Rp10 ribu semua. Ada juga Wajik dan Kue Mangkok ini,” ujar Fransiska sembari menunjukkan kue-kue itu.
Wajik yang memiliki tekstur lengket menjadi perlambang harapan agar hubungan keluarga selalu erat dan bersatu. Di sudut lain wadahnya, tampak pula Kue Mangkok beralaskan daun pisang seharga Rp4 ribu. Mungil namun tak kalah mekar, kue ini menyimbolkan rezeki yang terus berkembang.
Meski tak selalu tersedia, kue-kue tradisional ini menjadi buruan wajib bagi pengunjung. Terutama untuk keperluan ritual sembahyang Tuhan (Thian Kung) pada hari ke-9 Imlek.

Penasaran
Nasywa Nabila (21), salah seorang wisatawan mengaku baru pertama kali mencicipi Kue Moho. Datang dari Surabaya, Nasywa penasaran dengan jajanan khas Imlek.
“Warnanya menarik, biasanya saya lihat bakpao warna putih, ini warnanya merah muda terang. Terus bakpao yang ada tulisannya itu juga bikin terpancing mau beli,” ujarnya.
Ia sengaja membeli jajanan tradisional ketimbang makanan viral. Menurutnya, jajan tradisional membuat lebih mengenal budaya lokal yang ada di sekitarnya.
“Jadi tahu budaya orang Tionghoa kalau Imlek seperti apa, ternyata bisa juga dibeli dan dicicipi,” tukas Nasywa.