LENTERAJATENG, SEMARANG – Keberhasilan Sekolah Rakyat, tidak cukup diukur dari megahnya bangunan dan lengkapnya fasilitas. DPRD Kota Semarang mengingatkan aspek kesehatan mental siswa, terutama yang tinggal di asrama dan harus berpisah dengan orang tua.
Mental siswa menurut Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Mualim, juga menjadi perhatian serius agar program pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu tersebut berjalan optimal. Menurutnya, masa adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, khususnya jenjang SD dan SMP, yang belum terbiasa hidup jauh dari keluarga.
“Saat kami meninjau tadi ada anak yang menangis, belum tentu hanya karena kangen rumah. Kondisi psikis seperti ini perlu digali, sehingga menurut kami layanan psikologi sangat penting untuk mendampingi anak-anak,” kata Mualim, usai meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang di Rowosari, Kamis (16/10/2026).
Selain pendampingan psikologis, Komisi D juga menemukan masih adanya kekurangan tenaga pendidik dan wali asuh. Dengan jumlah 270 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA, sekolah baru memiliki sekitar 20 guru.
Untuk itu DPRD Kota Semarang, meminta kekurangan tersebut segera dipenuhi melalui koordinasi dengan pemerintah daerah maupun Kementerian Sosial. Sisi lain, Mualim mengapresiasi konsep Sekolah Rakyat yang memberikan pendidikan berasrama secara gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Program ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam membuka akses pendidikan,” tambahnya.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kota Semarang Ridho Irwanto menjelaskan, telah bekerja sama dengan Universitas Katolik Soegijapranata untuk layanan psikologi. Pendampingan dilakukan secara insidental, dengan psikolog yang juga disiapkan untuk berjaga sesuai kebutuhan.
Ia mengakui masih terdapat kekurangan lima guru, yakni tiga guru SD, satu guru kesenian, dan satu guru agama. Namun, kebutuhan tersebut mulai dibantu oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Terkait adanya siswa yang menangis, Ridho menilai kondisi itu masih wajar karena para siswa baru memasuki masa pengenalan lingkungan sekolah.
“Ini memang minggu-minggu kritis. Anak-anak sedang beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga rasa rindu rumah atau homesick pasti muncul. Yang dibutuhkan adalah dukungan dari sekolah dan juga orang tua agar proses adaptasi berjalan dengan baik,” tuturnya.