LENTERAJATENG, SEMARANG — Proyek betonisasi Jalan Brigjen Sudiarto atau yang lebih dikenal dengan Jalan Majapahit Semarang, yang diharapkan selesai pada akhir tahun 2025, kini menyisakan sejumlah permasalahan bagi masyarakat, terutama pengguna transportasi publik.
Anggota DPRD Kota Semarang, Ali Umar Dhani mengungkapkan, keprihatinannya terkait dengan sejumlah halte bus Trans Semarang yang terendam beton akibat pengecoran jalan yang dilakukan dalam proyek tersebut.
Ali mengkritik proses pengerjaan yang tidak mengutamakan kelancaran transportasi publik.
“Kami menerima laporan dari masyarakat, ada beberapa halte bus yang terendam karena pengecoran beton, salah satunya adalah halte di depan SPBU Penggaron, MAN 1 Semarang, dan Manunggal Jati. Selain itu, halte-halte di sekitar Jalan Zebra bagian selatan dan utara juga mengalami nasib serupa,” ujarnya.
Ali menegaskan, permasalahan ini harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kota dan pihak terkait.
“Betonisasi jalan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan infrastruktur, namun seharusnya keberpihakan terhadap kenyamanan warga, terutama para pengguna angkutan umum, juga menjadi prioritas. Halte-halte yang tergenang beton ini tentunya mengganggu mobilitas masyarakat, yang seharusnya dapat mengakses transportasi umum dengan mudah,” jelasnya.
Politikus dari Fraksi Partai PKS ini juga menyoroti kurangnya koordinasi antara pemerintah kota dan pihak kontraktor proyek dalam hal perencanaan dan pelaksanaan pengecoran jalan.
“Dari laporan yang kami terima, beberapa titik halte yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban pengecoran. Ini menunjukkan kurangnya perhatian terhadap fasilitas publik yang sangat penting,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjut, Ali Umar Dhani meminta pemerintah Kota Semarang untuk segera melakukan evaluasi dan memperbaiki halte bus trans semarang yang tenggelam.
“Kami meminta agar pemerintah segera melakukan perbaikan dan peninggian terhadap hatle, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” katanya.
Menurutnya, tindakan perbaikan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan, baik dalam hal pembangunan halte yang terkena imbas, maupun dalam memberikan solusi transportasi alternatif bagi pengguna Trans Semarang yang terdampak.
“Harapan kami, dengan evaluasi yang lebih baik, proyek-proyek besar seperti ini bisa lebih memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada angkutan umum,” ucapnya.