LENTERAJATENG, SEMARANG – Kota Semarang saat ini masih menyisakan 1.600 hektar lahan persawahan untuk ditanami padi. Dengan lahan yang tersisa tersebut, Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan yang berpotensi menyerang lahan persawahan.
“Masih beruntung Semarang punya lahan sawah seluas 1.600 hektar. Itu lahan sawah yang dilindungi. Itu jadi ‘concern’ kami untuk persiapan,” kata Kepala Dispertan Kota Semarang Hernowo.
Perbaikan saluran irigasi menjadi langkah utama yang dilakukan oleh Dispertan, termasuk melakukan kerjasama dengan semua pihak untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang dikhawatirkan melanda lahan persawahan di Kota Semarang.
“Kami lakukan hal-hal semaksimal mungkin, perbaikan saluran irigasi dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Pemali Juana dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. Sebagaimana dilakukan DLH, bagaimana kami menangkat air curah hujan, ditangkap, dan dilama-lamakan meresap di dalam tanah,” katanya.
Selain itu, antisipasi lain juga dilakukan dengan menanam bibit padi yang tahan terhadap kekeringan. Yakni dengan menggunakan bibit IP400 dengan masa panen padi bisa mencapai empat kali masa panen.
“Kalau untuk sawah yang irigasinya masih bagus, bisa pakai IP400. Itu bisa empat kali panen. Itu salah satu upaya untuk sawah yang irigasinya masih bagus,” jelasnya.
Sampai saat ini, dampak kekeringan ditegaskan Hernowo belum terdampak pada lahan persawahan di Kota Semarang, akan tetapi upaya-upaya antisipasi tetap dilakukan.
Lahan persawahan di Kota Semarang, saat ini tersebar di sejumlah wilayah, yakni Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Banyumanik, dan sebagian di Kecamatan Tugu. Artinya, kata dia, langkah-langkah antisipasi kekeringan tersebut dilakukan secara menyeluruh di 1.600 hektar lahan sawah yang tersisa. (IDI)